REDEFINISI MAKNA “ORANG MUHAMMADIYAH”

Irvan Mawardi[1][1]

 

            Dalam sebuah penelitian tentang Dinamika Pengelolaan Ranting di Kota jogja dan beberapa kota di Indonesia yang dilakukan beberapa waktu yang lalu oleh Pusat Studi Muhammadiyah terungkap sebuah fenomena baru tentang pemaknaan identitas Warga Muhammadiyah. Di beberapa ranting, sebagian pengurus yang aktif tidak memiliki Nomor Baku Muhammadiyah (NBM). Padahal sebagaimana kita pahami dan sepakati, bahwa syarat normatif dan juga minimal seseorang dikatakan warga Muhammadiyah apabila telah memiliki kartu NBM.  Yang menarik dari fenomena ini adalah alasan tidak memiliki NBM bukan karena persoalan tekhnis akan tetapi alasan bahwa; Tidak sempat mengurus, koordinasi tidak berjalan dan persoalan tekhnis lainnya. Akan tetapi ada alasan yang cukup substantif    dikemukakan kenapa tidak memiliki NBM   yakni mereka tidak merasa percaya diri apalagi bangga dikatakan sebagai warga Muhammadiyah secara structural. Sementara sehari-harinya mereka berstatus sebagai warga dan pengurus Muhammadiyah.

            Dalam kasus lain, seseorang dalam realitas social biasanya teridentifikasi sebagai warga Muhammadiyah karena memiliki keturunan orang Muhammadiyah dan beraktifitas atau bersekolah di amal usaha Muhammadiyah. Pertanyaan selanjutnya, apakah ketika mereka lulus atau tidak bekerja lagi di amal usaha Muhammadiyah kemudian masih mengaku sebagai warga Muhammadiyah ? apalagi kalau tidak berasal dari keluarga Muhammadiyah. Apakah kita begitu cepat dan yakin mengabsahkan bahwa orang-orang yang berbondong-bondong membuat NBM di kantor PP Muhammadiyah karena diterima sebagai pekerja di persyarikatan Muhammadiyah  adalah orang Muhammadiyah ? Sehingga pertanyaan pemungkasnya adalah siapa sesungguhnya yang berhak memegang identitas sebagai orang Muhammadiyah atau indicator apa yang dipakai sehingga sesorang bisa diklaim sebaga warga Muhammadiyah ?

            Dalam perspektif Ilmiah dan sebagai kajian ilmu pengetahuan untuk sebuah organisasi sebesar Muhammadiyah, fenomena ini harus dipersoalkan dan diwacanakan. Alasannya sederhana, selama ini banyak agenda-agenda dan kebijakan-kebijakan persyarikatan yang mengandalkan asumsi kekuatan kuantitas warga Muhammadiyah. Mulai dari persoalan dakwah riil Muhammadiyah dengan program Gerakan Jama’ah Dakwah Jama’ah (GJDJ), urusan Ekonomi dengan Bank Persyarikatan-nya, urusan Pendidikan dengan sekolah dan perguruan tingginya, urusan social dengan rumah sakit dan panti asuhannya. Yang paling mutakhir – karena sangat mengandalkan asumsi kuantitas warga Muhammadiyah – adalah persoalan politik untuk mencari dukungan lewat pemilu/Pilkada maupun pertimbangan mendirikan partai politik.

Kalau diperhatikan secara kritis, berbagai program dan aktivitas Persyarikatan yang menyeluruh untuk mendukung tercapainya cita-cita Muhammadiyah, cenderung mengalami kemandegan karena tidak mendapat dukungan supra dan infrastruktur dari warga Muhammadiyah sendiri, karena sekali lagi, identifikasi “orang Muhammadiyah “ semakin tidak jelas. Artinya objek dakwah semakin bias, sehingga aktivitas dari gerakan itu tidak mampu melahirkan transformasi nilai yang diharapkan memperkuat basis dan cita-cita Muhammadiyah. Kegagalan transformasi itu terlihat ketika rangkaian aktivitas atau amal usaha Muhammadiyah tidak mampu melahirkan kader Muhammadiyah dalam jumlah yang banyak dan kualitas yang tinggi. Yang ironi ketika kekuatan jumlah yang bias itu, senantiasa (hanya) ditonjolkan di public   atau pihak-pihak yang diajak kerjasama dalam sebuah program tertentu.

 Idealnya, sebagai organisasi modern dan senantiasa mengedepankan rasionalitas, Muhammadiyah sebenarnya tidak perlu terjebak dari persoalan kuantitas warganya. Tetapi dalam konteks ini, mempersoalkan identitas Muhammadiyah tidak semata-mata untuk mengukur akurasi jumlah warga Muhammadiyah yang sesungguhnya. Lebih dari itu adalah diperlukan adanya korelasi antara produktivitas gerakan (proses dakwah) dengan kondisi umat yang merasakan mamfaat adanya dakwah Muhammadiyah. Dengan demikian identifikasi orang Muhammadiyah yang sesungguhnya adalah ketika sesorang tersebut, paham dan beraktivitas dengan nilai-nilai yang perjuangkan Muhammadiyah selama ini. Harus dicatat, bahwa organisasi ini adalah gerakan dakwah yang menghendaki lahan dakwah yang jelas dan figure-figur pendakwah yang memiliki visi dan misi yang sama dengan Muhammadiyah. Sehingga bukan persoalan sederhana kalau Muhammadiyah terjebak dan kehilangan autentisitas gerakannya akibat orang-orang yang tidak jelas dalam lingkungannya dan juga adanya ketidakjelasan jangkauan atau sasaran dakwah. Artinya karena Muhammadiyah adalah sebuah gerakan yang memperjuangkan nilai, maka semua komponen yang berjuang di dalamnya harus memiliki visi dan misi yang sama dengan nilai-nilai yang dipahami Muhammadiyah.

Dengan mengacu pada pandangan ideal di atas   dan melihat kondisi akhir-akhir ini, maka sebenarnya jumlah orang Muhammadiyah saat ini sangatlah sedikit. Secara riil orang Muhammadiyah saat ini dapat dikategorikan beberapa kelompok. Yang pertama, Orang Muhammadiyah Sekuler, yakni merasa menjadi orang Muhammadiyah dan beraktivitas dan berkeyakinan layaknya orang Muhammadiyah ketika berada di ruang kerja yang kebetulan milik Muhammadiyah. Tapi setelah pulang dari tempat beraktivitas di Muhammadiyah, apakah itu kantor, sekolah, rumah sakit dsb, maka baju Muhammadiyah ditanggalkan, kemudian memakai baju lain di lingkungan yang lain dan tidak merasa dan mengaku sebagai orang Muhammadiyah. Kedua, Muhammadiyah Simbolik, yakni di manapun dan kapanpun mengaku dan merasa orang Muhammadiyah karena memiliki NBM, meskipun secara riil sikap dan pemikirannya tidak mencerminkan nilai-nilai yang dipahami dan diperjuangkan Muhammadiyah. Ketiga Muhammadiyah Substantif yakni orang yang tidak mempersoalkan identitas secara normatif akan tetapi sepakat dengan pemahaman dan amaliyah Muhammadiyah meskipun tidak memiliki NBM. Keempat Muhammadiyah Ideal, yakni orang Muhammadiyah yang secara normatif memiliki identitas Muhammadiyah, paham dan sepakat dengan nilai-nilai Muhammadiyah serta sanggup dan senantiasa memperjuangkan nilai-nilai tersebut. Kelompok ini (mungkin) terfresentasikan oleh para kader yang berjuang di persyarikatan secara sungguh, baik di Muhammadiyah maupun di ortom-ortomnya

Dengan demikian tulisan ini mencoba mengingatkan bahwa kapasitas anggota Muhammadiyah yang ideal dan sesuai dengan landasan normatif  Muhammadiyah, jumlahnya tidak terlalu banyak. Dengan demikian tantangan ke depan adalah jumlah anggota Muhammadiyah yang memiliki kapasitas ideal memiliki relasi dengan out put dari gerakan Muhammadiyah. Semakin besar jumlah anggota Muhammadiyah yang memiliki kapasitas nilai-nilai Muhammadiyah, maka corak dan karakter gerakan Muhammadiyah pun semakin nyata dan bermutu untuk umat. Mungkin itu!

 



[1][1  Penggiat di Majelis Reboan   Jogjakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: