Jogja dan Agenda Multikulturalisme

Oleh Irvan Mawardi

Kalau di Jakarta, Gelombang pendatang dari luar Jakarta yang bermaksud mengadu nasib di Ibu Kota terjadi pasca Lebaran pada setiap tahunnya, sedangkan di Jogjakarta, gelombang kedatangan pendatang  yang menginjakkan kaki di Kota Gudeng ini terjadi di awal tahun ajaran pendidikan, sekitar bulan Mei-September setiap tahunnya. Perbedaan selanjutnya adalah motif yang melatarbelakangi migrasi para Imigran atau pendatang di dua daerah ini. Jakarta di serbu para pendatang baru tersebut dengan motif ekonomi karena Jakarta bagi mereka menjanjikan kehidupan ekonomi yang layak. Sedangkan Jogjakarta motif lebih dominan dengan pertimbangan Pendidikan. Para pendatang tersebut masih meyakini Jogjakarta adalah kota yang memiliki kualitas pendidikan yang lebih dibanding daerah lain.

Terkait dengan alasan tersebut maka tulisan ini mencoba mengurai potensi  sesungguhnya yang harus diberdayakan oleh Pemerintah Jogjakarta dan masyarakat Jogjakarta pada umumnya terkait dengan semakin tingginya jumlah Pendatang/Non Pribumi setiap tahunnya yang datang ke Jogjakarta ini. Menurut keterangan Pemerintah Daerah Istimewa Jogjakarta beberapa waktu yang lalu bahwa saat ini, prosentase jumlah Penduduk Asli dan Pendatang di Jogjakarta adalah 65% : 35%  dan jumlah non pribumi itu setiap tahunnya semakin meningkat. Peningkatan jumlah ini menunjukkan bahwa setiap tahun tingkat heteroginitas Jogjakarta semakin tinggi yang didalamnya bergulat dan berdilaketika berbagai macam etnik, agama dan kultur. Dengan demikian persoalan dan sekaligus tantangan masyarakat Jogjakarta di tengah keragaman itu adalah agenda Multikuluralisme dalam rangka mewujudkan Jogjakarta sebagai kota  Pendididkan  dan Kota Budaya.

Mengingat motif kedatangan non pribumi di Jogjakarta adalah adalah murni lebih dominan karena pertimbangan Pendidikan, maka sesungguhnya agenda multikulturalisme di Jogjakarta memiliki harapan yang cukup menjanjikan. Dengan pertimbangan pendidikan, maka individu-individu yang beragam tersebut seharusnya memiliki kesadaran kolektif dan budaya yang tinggi karena mereka adalah orang yang berpendidikan. Berbeda dengan yang berdalih ekonomi, maka sikap individualistik dan kapitalistik  lebih dominan muncul daripada kesadaran kolektif dan semangat berbudaya. Karena alasan pendidikan pula dan bukan semata-mata alasan ekonomi, di Jogjakarta tidak terjadi persaingan atau bahkan monopoli perekonomian yang menghadapkan Pribumi vis to vis dengan non pribumi. Kaum ekonom / pengusaha pribumi belum merasa terancam kekuatan ekonominya disaingi maupun diambil oleh para pendatang. Bahkan sebaliknya kedatangan para pendatang tersebut semakin memperkuat perekonomian pribumi dengan berbagai macam jenis perekonomiannya, karena mayoritas pendatang adalah konsumen dari produksi yang dimiliki masyarakat pribumi. Sebutlah misalnya, industri makanan, industri property, industri pariwisata dan industri hiburan semuanya mengalami peningkatan aktivitas yang tinggi

Akan tetapi dalam konteks multikulturalisme dan kelestarian Jogjakarta sebagai  Kota Budaya, maka saat ini dapat dijelaskan bahwa semakin tingginya jumlah pendatang  dengan berbagai dinamikanya merupakan salah satu  tantangan   dalam mewujudkan multikulturalisme di Jogjakarta. Jangan sampai kehadiran pendatang terkadang justru dianggap “melunturkan- atau bahkan menghancurkan” sendi-sendi budaya yang selama ini kental diyakini masyarakat Jogjakarta. Ada beberapa pertimbangan mengapa  multikulturalisme mendesak menjadi agenda bersama di Jogjakarta;

Pertama, unsur-unsur budaya seperti bahasa dan adat istiadat, pemahaman dan pemaknaannya semakin luntur khususnya di kalangan anak muda asli Jogja begitu juga pendatang yang notabenenya memiliki budaya yang khas. Mereka ini sudah kesulitan ketika menggunakan bahasa lokalnya masing-masing secara tepat dan benar, mengingat mereka dituntut hidup dalam pergaulan yang “menasional”. Selaku pendatang, saya punya pengalaman hidup selama 15 tahun di Jogjakarta. Di kala duduk di bangku SMP-SMU, kebetulan sekolah kami merepresentasikan siswa dari berbagai macam suku dan etnik. Beberapa teman yang asli Jogja selama di lingkungan seperti  itu cenderung “terpaksa” untuk tidak menggunakan bahasa Jawa dan kurang mampu mempraktekkan lagi adat istiadat dan kebiasaannya  karena senantiasa mendapat hambatan atau bahkan protes di kalangan teman yang berlainan etnik. Begitu juga dengan para pendatang, tidak mampu mengapresiasikan budaya daerahnya di hadapan teman-temannya. Sehingga Jogjakarta memungkinkan menjadi tempat untuk mengubur karakter dan ciri khas budaya yang beragam itu.

Mungkin kita sering terkecoh atau tidak mampu mengidentifikasi sosok seorang teman; aslinya dari mana, tradisinya seperti apa kalau tidak melalui proses klarifikasi atau investigasi secara serius terhadap teman tersebut. Bahkan bahasa teman saya yang jelas asli Jawa Tengah Banyumas-an, tidak lagi menjadi khas dia, tapi justru bahasanya berubah menjadi dialek bahasa Batak. Termasuk dalam hal tata karma, etika bergaul dan corak  menjalani aktivitas sehari-hari, tentunya masing-masing etnis memiliki karakter yang beragam. Tapi keragaman itu tidak terdialogkan secara dinamis sehingga etnisitas yang beragam tidak dimaknai sebagai sebuah kekayaan tapi sering dijadikan media untuk mempertegas konflik.

Kedua, realitas lingkungan Jogja yang heterogen ini belum mampu melahirkan dialog budaya yang massif dan dinamis. Dalam komunitas yang beragam seperti kos-kos-an misalnya, para penghuni yang beragam itu sangat minim menceritakan, mengenalkan apalagi memperaktekkan budaya masing-masing kepada temannya. Ini menunjukkan betapa masyarakat kita. khususnya generasi muda semakin miskin akan pemahaman  budaya dan tradisinya sehingga tidak menimbulkan kebanggaan terhadap kekayaan lokalnya. Dialog yang muncul adalah pembicaraan yang berkisar dalam masalah modernitas, konsumerisme dan gaya hidup yang lagi trend. Heterogenitas tidak memunculkan dialektika budaya dan dialog-dialog budaya yang produktif. Sehingga, meskipun memiliki individu yang memiliki latar belakang budaya yang bermacam-macam, akan tetapi Jogja tidak semakin kaya dengan budaya-budaya lain yang berasal dari luar Jogja.

Ketiga, arus globalisme dan kapitalisme tak pelak secara nyata menjadi batu sandungan dan sekaligus menghancurkan proses pelestarian nilai-nilai religiusitas dan budaya yang menjadi kunci dalam melahirkan paradigma multikuluralisme. Kapitalisme melahirkan sebuah dunia tanpa batas, nasionalisme, agama, dan etnisitas atau kebudayaan. Semua itu lebur dalam sebuah interaksi universal antarbudaya. . Masyarakat Jogjakarta, pribumi maupun pendatang, oleh kekuatan Kapitalisme dipaksa menanggalkan budaya dan tradisi mereka untuk bersama-sama larut dalam budaya popular, materialistic, individualistik dan gaya hidup lainnya yang selama ini diproduksi oleh Kapitalisme. Arus kapitalisme di Jogjakarta tidak hanya melahirkan kepincangan relasi social sehingga menimbulkan gejolak sosial seperti penggusuran, tapi lebih dari itu Kapitalisme menjadi budaya bahkan ideology baru bagi masyarakat Jogja sehingga meluluntahkan Jogjakarta sebagai kota Budaya. Pendidikan, agama, nilai-nilai local, etika semua terpinggirkan oleh produk kapitalisme. Ironisnya kekuatan pasar dan kapitalisme  ersebut mendapat dukungan penuh dari kekuatan Birokrasi, sehingga  sekolah dan media-media intelektual yang meniscayakan ruang-ruang dialog budaya dan peradaban harus diganti dengan Mall,plaza dan produk kapitalisme lainnya sebagai ruang transaksi kepentingan kaum hedonis dan materialistic. Intinya pemerintah lebih cenderung memperkuat struktur dan infrastruktur kepentingan kapitalisme daripada berusaha mendialogkan dan melestariakan pluralitas budaya yang ada di Jogjakarta.

Ketiga fenomena itulah yang menghendaki kita untuk menetapkan “ideology” Multikulturalisme sebagai sebuah tatanan hidup yang dinamis dalam kehidupan masyarakat Jogjakarta. Kemajemukan Jogjakarta meniscayakan penguatan multikulturalisme dengan catatan adanya kesiapan struktur-struktur, pranata-pranata, dan organisasi-organisasi sosial, dengan pedoman etika dan pembakuannya sebagai acuan bertindak, serta pembenahan hukum. Selain itu landasan pengetahuan diperlukan untuk memahami multikulturalisme, yakni bangunan konsep-konsep yang relevan dan mendukung keberadaan serta berfungsinya multikulturalisme dalam kehidupan manusia, antara lain: demokrasi, keadilan dan hukum, nilai-nilai budaya dan etos, kebersamaan dalam perbedaan yang sederajat, suku bangsa, kesukubangsaan, kebudayaan suku bangsa, keyakinan keagamaan, ungkapan-ungkapan budaya, domain privat dan publik, hak azasi manusia, hak budaya komuniti, dan lain-lain.

Meski wujud konkritnya masih terlihat samar-samar, tatanan masyarakat multikultural yang hendak dituju cenderung mengacu pada suatu tatanan masyarakat yang unsur-unsurnya memiliki ciri yang juga beragam. Hubungan antar unsur yang berbeda itu juga meniadakan oleh corak hubungan yang dominatif, dan karenanya juga tidak ada ruang untuk bersifat diskriminatif. Perbedaan yang jelas dibandingkan dengan masyarakat plural ialah adanya interaksi yang aktif di antara unsur-unsurnya melalui proses belajar. Lebih dari itu, kedudukan berbagai unsur yang ada di dalam masyarakat itu berada dalam posisi yang setara,demi terciptanya keadilan di antara berbagai unsur yang saling berbeda (Furnivall -1948)

Dalam konteks Jogjakarta, multikulturalisme tidak hanya dimanifestasikan dalam bentuk  toleransi terhadap kebudayaan dan etnisitas yang  berlainan dan adanya kebijakan untuk bersikap toleran dan untuk melindungi kebudayaan yang berbeda tersebut . Tapi lebih dari itu masing-masing individu yang berlainan suku itu harus mampu menampilkan karakter dan ciri khas budayanya dalam kehidupan sehari-hari ketika menjalani kehidupan bersama di Jogjakarta. Selain itu, pemerintah seharusnya memacu dan mendukung penuh setiap upaya-upaya penguatan potensi budaya local yang diusung dan ditampilkan oleh berbagai macam daerah yang masyarakatnya ada di Jogjakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: