Jokowi di antara Mahfud MD, Dahlan Iskan dan Anies Baswedan

Tiga hari berturut-turut, 26 sd 28 Agustus 2013 Harian Kompas menghadirkan hasil Survey Kompas tentang Calon Presiden RI 2014 sebagai Headline. Kompas melakukan Survey dua kali yakni Desember 2012 dan Juni 2013 untuk menilai tingkat Popularitas dan Elektabilitas beberapa tokoh yang sering disebut akan maju sebagai Capres pada pemilu. Hasilnya, Jokowi melejit, mengungguli nama-nama yang selama ini sering dijagokan seperti Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla, Aburizal Bakri, Wiranto, Surya Paloh. Jokowi juga unggul telak atas tokoh-tokoh yang dianggap baru dan bersih seperti Mahfud MD, Anies Baswedan, Dahlan Iskan, Gita Wirjawan, Hatta Rajasa, Irman Gusman dll.

Tulisan ini tidak bermaksud mengulas panjang hasil survey Kompas. Namun saya bermaksud menuangkan pikiran tentang keunggulan Jokowi dengan beberapa tokoh lainnya, terutama dengan tokoh-tokoh yang kemunculannya masih cukup baru dalam kontestasi Capres seperti halnya dengan Jokowi. Tokoh-tokoh yang saya maksud adalah Anies Baswedan, Mahfud MD dan Dahlan Iskan.

Image

 

Ada beberapa alasan yang menarik bagi saya untuk mengulas “keunggulan” Jokowi dengan ketiga nama tersebut. Pertama, kalau mengulas keunggulan Jokowi dnegan tokoh-tokoh lama seperti Wiranto, JK, Megawati, Aburizal dan Surya Paloh, maka argumentasinya begitu mudah dipahami bahwa masyarakat pada umumnya sudah bosan dengan pemimpin dan elit lama. Masyarakat menghendaki figur baru, hal tersebut tercermin dan berbagai survey yang hasilnya menunjukkan popularitas dan elektabilitas tokoh-tokoh lama tersebut tidak ada yang menembus angka 20%. Bandingkan dengan Jokowi yang mencapai angka 32%.  Sehingga lebih menarik mengulas keunggulan Jokowi terhadap kompetitor lainnya yang masih cukup baru. Alasan kedua, yakni sebagai sesama pendatang baru yakni antara Anies, Mahfud dan Dahlan, penyebutan Jokowi sebagai kandidat presiden relatif disebut 1 tahun terakhir ini. Dibandingkan dengan Mahfud MD yang  sudah mulai disebut sebagai capres potensial sejak beliau memimpin Mahkamah Konstitusi dengan berbagai putusannya yang dianggap progressif dalam mengakkan hukum dan keadilan. Anies Baswedan juga sebenarnya sudah disebut pemimpin muda yang memiliki peluang bagus dengan program Indonesia Mengajar yang dia gulirkan beberapa tahun terakhir dan keberhasilannya memimpin Universitas Paramadina. Dahlan Iskan sudah lebih dulu mencolok dengan gaya pemimpin sederhana dan kebiasaan blusukan sejak menjadi Menteri 2 tahun lalu. Bandingkan dengan Jokowi yang baru dikenal elit secara nasional ketika diusung oleh PDIP-Gerindra sebagai calon Gubernur DKI berpasangan dengan Ahok bulan Agustusn tahun 2012 lalu. Anies, Mahfud dan Dahlan juga dikenal sebagai tokoh yang bersih dan tidak terkena isu-isu kontroversial. Fakta-fakta itulah yang menarik untuk dicermati, situasi apa yang sesungguhnya terjadi sehingga Jokowi begitu unggul (dalam survey) dengan tokoh sekaliber Mahfud MD, Dahlan Iskan dan Anies Baswedan

Pertama, Berbagai kalangan menilai bahwa tingginya angka popularitas dan elektabilitas yang diperoleh Jokowi dalam berbagai Survey merupakan cermin adanya ekspektasi masyarakat Indonesia terhadap pemimpin yang tampil apa adanya, tidak menonjolkan pencitraan namun berani dan tegas mengambil kebijakan yang memihak kepada rakyat. Kepemimpinan Jokowi selama 2 periode sebagai Walikota Solo dan setahun di Jakarta sebagai Gubernur dengan berbagai kebijakan populisnya mampu memikat di hati masyarakat pada umumnya. Wajah dan penampilan Jokowi yang sederhana, kalimat yang disampaikannya pun sederhana bahkan dengan gaya guyon dan “ndeso” yang itu lekat dan mudah diterima masyarakat di lapisan bawah. Wajah atau fisik yang ditampilkan oleh Jokowi adalah antitesis dari gaya dan fisik SBY yang besar, ganteng, gagah, pokoknya stylist. Sebaliknya, Jokowi hadir dengan ciri khas baju putih lengan panjang yang dilipat. Kecuali Dahlan Iskan, Gaya Jokowi ini yang tidak dimiliki oleh Anies Baswedan dan Mahfud MD. Tampilan Anies Baswedan yang selalu memakai dasi dan juga jas serta wajah ganteng ala priyayi hampir persis dengan model SBY (secara fisik). Tampilan Anies yang begitu “ngelit” dengan tuturan kata yang tidak mudah dipahami oleh masyarakat awam, memposisikan Anies tidak berbeda dengan elit yang lainnya. Mahfud MD hadir dengan berbagai komentar di sana-sini yang kurang menunjukkan sosok yang sederhana. Kebiasaan Mahfud MD dalam mengometari berbagai hal dan kontroversial justru mengurangi simpati masyarakat kepadanya. Dahlan Iskan, meskipun memiliki tampilan yang mirip dengan Jokowi, namun kesederhanaan Dahlan sering dianggap pada level berlebihan (lebay), misalnya ketika menyimpan botol air mineral di dalam bajunya pada saat rapat bersama dengan DPR. Atau mungkin karena ingin menunjukkan kemandirian, Dahlan menyetir sendiri mobil ke Tawangmangu dan ngebut yang akhirnya kecelakaan. Singkatnya, Jokowi unggul diantara ketiga nama tersebut dalam hal performa fisik (Penampilan, tutur kata). Indikator ini, bagi masyarakat di level bawah, adalah termasuk aspek yang cukup berpengaruh dalam menilai seorang pemimpin

Kedua, Jokowi diuntungkan dengan efek kebijakannnya di DKI karena menduduki posisi sebagai Gubernur DKI. Jokowi memiliki orotitas yang kuat dan lebih untuk mendesain berbagai kebijakan-kebijakan kreatif namun memiliki nilai perubahan ang mendasar dari pendahulunya. Kebijakan tersebut sprti Pengerukan Waduk Pluit, Redesain PRJ, Lelang Jabatan, Relokasi ke rumah Susun, umah deret, revitalisasi kawasan tanah abang dll. Kebijakan-kebijakan Jokowi dalam hal ini tampak istimewa dan luar biasa karena 2 faktor: jenis kebijakan yang diambil dan terjadi perubahan secara signifikan yang mana para pendahulu Jokowi tidak mampu melakukan hal tersebut, misalnya dalam kasus Tanah Abang. Kedua, ekspos/pemberitaan terhadap setiap kebijakan begitu massif dilakukan oleh berbagai media. Tak terkecuali Media yang juga dimiliki oleh oleh kompetitornya seperti Metro TV (surya paloh), Indo Pos (Dahlan Iskan), TV One (ABR) dan MNC(HT).  Dan kebijakan populis Jokowi dalam menata Jakarta dipahami oleh masyarakat Jakarta sebagai bagian langsung dari pemikiran genuine dan ide besar Jokowi, tidak ada orang atau kekuatan lainnya. Bandingkan dengan putusan-putusan progressif MK, meskipun Mahfud MD sebagai corong dan simbol MK, namun masyarakat pahm betul bahwa putusan MK tersebut tidak lahir dari pemikiran dan keinginan Mahfud MD sendiri, tpi hasil dari Musyawarah seluruh anggota Majelis Hakim MK. Program Indonesia Mengajar-nya Anies Baswedan sebenarnya baik dan populis, namun tidak diekspos secara massif sehingga hanya diketahui dan dipahami oleh kalangan tertentu saja. Universitas Paramadina yang dipimpinnya pun masih tergolong kampus baru dan termasuk kampus elit yang tidak mudah dijangkau oleh semua elemen masyarakat. Kebijakan populis Dahlan Iskam pun dianggap tidak konsisten, seperti proyek Esemka dan mobil listrik  yang dijanjikan akan produksi besar, namun semakin mengecil. Banyak BUMN yang merugi dan kinerjanya semakin merosot, seperti Merpati.

Ketiga, Masyarakat Indonesia tidak terlalu care dengan pola dan sikap ambisius dalam meraih jabatan. Jokowi sampai saat ini tidak pernah menyatakan kehendak dan keinginan akan maju jadi Capres, tapi masyarakatlah yang menghendaki. Bandingkan dengan ANies, Dahlan dan Mahfud yang kesemuanya sudah mendeclearkan kesiapan sebagai capres. Menurut saya, Jokowi unggul dalam ketawadhuan berpolitik dalam meraih kekuasaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: